Rabu (01/07/07) saya membaca sebuah pemberitaan di detik mengenai Penggiat Open Source Lebih ‘Banyak Omong’ Daripada Kerja. Dalam berita tersebut Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, juga mengeluarkan beberapa pernyataan yang cukup bikin telinga panas. Untuk itu saya akan berbagi pengalaman dengan anda.
“Kita agak lamban menggarap open source karena lebih banyak diskusinya ketimbang ngerjainnya,”
Saya justru bingung dengan kesan “lamban” karena disini, memang kita berbicara dalam posisi yang berbeda. pertama, pandangan seorang menteri, dan kedua, pandangan kita sebagai aktivis yang pernah turun ke lapangan secara langsung.
Saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman sebagai Tim UGOS (UGM Goes Open Source), dalam aktivitas ini kami lebih banyak terlibat dalam aspek psikologis dari pada teknis, karena memang yang target yang kami capai adalah mengubah kebiasaan pengguna dari Windows ke Linux. Hanya komputer-komputer yang dipergunakan untuk kebutuhan administrasi dan internet yang kami layani, dan untuk kebutuhan aplikasi khusus seperti SPSS, SAP, dsb terpaksa kami “acuhkan” dahulu, “biar ga nganggu kegiatan akademik”, ujar bos kami.
Tentunya anda bertanya-tanya kenapa kami lebih menargetkan penggunaan Linux dari pada aplikasi open source sendiri. Saya pernah melakukan survey tentang kebiasaan para pengguna, dari survey ini ada kesimpulan penting yang perlu anda ketahui, yaitu pengguna tidak bisa membedakan antara sistem operasi dan aplikasi. Jadi jika anda bicara tentang windows maka itu sudah termasuk dengan Microsoft Office, Yahoo Messenger, dsb. Dan jika anda bicara tentang aplikasi Open Office di Windows, maka mereka tetap beranggapan bahwa aplikasi Open Office adalah Linux. Sebenarnya kami telah memberikan pengertian kepada pengguna, namun tetap saja mainframe mereka belum bisa dirubah.
Jadi maaf pak Nuh, kami tidak lamban, tapi mengubah kebiasaan orang memang butuh proses, tidak bisa instan seperti mie instan :D.
“Padahal mereka (komunitas open source Indonesia - red.) tinggal bilang, butuh biaya berapa untuk mengembangkannya agar bisa digunakan masyarakat secara user friendly,”
Jauh lebih baik jika kita mengembangkan Distro Linux yang sudah ada, dari pada membuat sendiri. Karena dari pertama target kita adalah mengubah kebiasaan, bukan membuat distro. Jika kita memang ingin mengembangkan distro, maka bentuklah tim tersendiri. Jadi akan ada porsi-porsi tersendiri bagi mereka yang melakukan sosialisasi dan yang mengembangkan.
Mengenai dana yang tinggal minta, itu sangat sulit, asli sulit banget. saya yang pernah mengadakan event dan ikut serta dalam tim UGOS juga mengalami kedala dalam birokrasi. Seperti kebanyakan instansi, mengeluarkan dana atau dalam bahasa kita meminta dana butuh melalui proses yang panjang, seperti pengajuan proposal, surat-menyurat, lobi sana-sini, kl kita punya koneksi dengan instansi tersebut biasanya prosesnya tidak akan sampai berbulan-bulan.
Dan kl boleh sie.. itu dana di pergunakan untuk para psikolog, motivator, sekaligus aktivis Linux yang melakukan sosialisasi. Yang penting mereka nyaman dulu pake Linux, baru deh abis itu mo ngembangin lain-lainnya.
“Software open source ini sudah bisa diunduh melalui situs www.foss.web.id. Di dalamnya juga disertakan 40 program aplikasi yang bisa digunakan layaknya aplikasi yang ada di software proprietary,”
Seperti yang saya sampaikan diatas, lebih baik kita menargetkan untuk kebutuhan administrasi dan internet terlebih dahulu, karena memang kebutuhan tersebut yang paling banyak digunakan. nah abis semuanya bisa dan nyaman pake Linux, baru deh…
Justru kerjasama antara komunitas, universitas, dan pemerintah sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan open source.